Sotoji: Jamurnya Serasa Daging
Makanan apa yang paling populer di Indonesia dan begitu intim dengan kata instan? Jawabnya pasti akan seragam, yaitu mie instan. Siapa yang gak kenal dengan mie instan, sebuah produk olahan mie yang dikemas dalam plastik dengan berat bersih rata-rata 70 gram dan cara memasaknya pun begitu mudah serta cepat. Produk yang awalnya dimonopoli oleh salah satu perusahaan yang menguasai hampir seluruh kebutuhan rumah tangga terbesar di Indonesia (bahkan dunia), kini pun telah diikuti oleh perusahaan sedang dan (bahkan) kecil. Salah satunya adalah Sotoji.
Mie sendiri adalah makanan berbentuk adonan tipis panjang kering berbahan tepung yang dimasak dalam air mendidih. Sejarah tertulis tentang mie ditemukan pada tahun 25-220 SM dari Dinasti Han Timur, sedangkan mie tertua berusia 4 ribu tahun telah ditemukan di Qinghai, Tiongkok. Mie begitu terkenal di Indonesia dan Asia, sementara di Eropa dikenal dengan nama pasta (Italia) dan noodle (Inggris). Bahan baku mie di Eropa biasanya dari jenis-jenis gandum, sedangkan di Asia begitu beragam mulai dari tepung terigu, ketela pohon, hingga tepung jagung atau kacang hijau.
Sotoji adalah produk mie instan yang bahan utamanya adalah mie sohun, yaitu produk mie berwarna putih dengan ukuran diameter kecil dan ada yang menyebutnya sebagai mie benang. Sangat berbeda dengan mie yang pada umumnya terbuat dari tepung terigu, mie sohun terbuat dari pati. Di negara asalnya, Tiongkok, mie sohun terbuat dari pati kacang hijau sedangkan di Indonesia pada umumnya terbuat dari pati sagu atau aren. Mie sohun jelas berbeda dengan mie bihun yang terbuat dari tepung beras (dalam bahasa Tionghoa Bi artinya beras dan hun artinya tepung). Dan bukan kebetulan kalau sosok itu begitu menyukai mie sohun.
Yang unik dari Sotoji adalah produk akhirnya yang berbentuk soto. Soto (Sroto atau coto) adalah makanan khas Indonesia yang terbuat dari kaldu daging dan sayuran. Inilah yang membedakan Sotoji dari kemasan mie instan (terutama mie sohun) lainnya. Sotoji mencoba menawarkan rasa Indonesia asli dengan minyak sotonya. Dan satu lagi keistimewaan Sotoji adalah jamurnya. Jika kebanyakan soto yang ada menggunakan bahan daging maka Sotoji begitu unik dengan menggunakan jamur tiram goreng. Mungkin inilah latar belakang mengapa PT Tri Rastra Sukses Sejahtera sebagai produsennya mengambil nama Sotoji. Salah satu kelebihan dari soto jamur adalah proses pembuatannya yang lebih cepat ketimbang jenis soto daging yang diolah sampai dua kali.
Jujur saja, sosok itu tidak terlalu suka dengan makanan olahan jamur. Apalagi jika sang belahan jiwa sudah menyiapkan sayur sop yang berisi jamur. Entah mengapa bagi dirinya rasa jamur di lidah begitu aneh, apalagi jika harus mengingat bagaimana bentuk jamur dari habitat aslinya. Ya, sosok itu begitu hapal mengenai jamur mengingat dirinya yang kuliah mengambil jurusan Farmasi. Ilmu biologinya begitu menancap kuat di kepala sehingga segala macam jamur telah diketahuinya, dari jamur yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop hingga jamur raksasa. Mayoritas jamur bersifat toksik atau beracun, itulah yang tak disukainya. Bahkan, ada satu kata negatif yang melekat pada jamur, yaitu tanaman parasit. You know lah apa itu parasit.
Namun jamur pada Sotoji beda. Untung saja sosok itu tidak ingat kalau Sotoji berbahan dasar jamur sehingga saat dihidangkan oleh sang belahan jiwa, ia begitu asyik melahapnya. Bentuk matang dari jamur pada sotoji telah berkamuflase dari bentuk aslinya, tampak seperti potongan daging ayam yang disuir-suir. Rasanya pun juga mengejutkan! Sosok itu begitu menyukainya. Jamur pada Sotoji serasa daging. Inilah yang membuat dirinya begitu menyukai Sotoji meski berbahan dasar jamur. Sotoji telah mengubah image pada dirinya bahwa jamur itu tidak terasa enak di lidah. Sotoji telah membuktikan pada dirinya bahwa jamur itu bahkan sangat enak. Luar biasa!
Jamur yang digunakan pada Sotoji adalah jamur tiram. Cara pengolahannya pun digoreng, bukan direbus sehingga tampilan fisiknya tampak seperti suiran daging ayam. Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) adalah jamur pangan dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycetes dengan ciri-ciri umum tubuh buah berwarna putih hingga krem dan tudungnya berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung. Di alam bebas, jamur tiram bisa dijumpai hampir sepanjang tahun di hutan pegunungan daerah yang sejuk. Tubuh buahnya terlihat saling bertumpuk di permukaan batang pohon yang sudah melapuk atau pokok batang pohon yang sudah ditebang karena jamur tiram adalah salah satu jenis jamur kayu.
Nah, di sinilah bagian pentingnya tentang jamur tiram. Berdasarkan penelitian Sunan Pongsamart, seorang ahli biokimia dari Fakultas Farmasetika Universitas Chulangkorn, jamur tiram mengandung protein, air, kalori, karbohidrat, dan sisanya berupa serat zat besi, kalsium, vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin C. Kandungan protein, vitamin, dan mineralnya begitu tinggi namun kandungan lemaknya tergolong rendah. Komposisi dan kandungan nutrisi setiap 100 gram jamur tiram adalah 367 kalori, 10.5 30.4 persen protein, 56.6 persen karbohidrat, 1.7 2.2 persen lemak, 0.20 mg thiamin, 4.7 4.9 mg riboflavin, 77.2 mg niacin, dan 314.0 mg kalsium. Kalori yang dikandung jamur ini adalah 100 kj/100 gram dengan 72 persen lemak tak jenuh. Serat jamur tiram sangat baik untuk pencernaan dimana kandungan seratnya mencapai 7.4 24.6 persen sehingga cocok untuk para pelaku diet.
Kandungan gizi jamur tiram menurut Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian, khususnya protein, adalah rata-rata 3.5 4 persen dari berat basah, yang berarti dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan asparagus dan kubis. Jamur tiram juga mengandung 9 macam asam amino yaitu lisin, metionin, triptofan, threonin, valin, leusin, isoleusin, histidin, dan fenilalanin. 72 persen lemak dalam jamur tiram adalah asam lemak tidak jenuh sehingga aman dikonsumsi baik bagi penderita kelebihan kolesterol (hiperkolesterol) maupun gangguan metabolisme lipid lainnya. Rasa enak jamur tiram diperkirakan berasal dari 28 persen asam lemak jenuh dan adanya semacam polisakarida kitin.
Jamur tiram juga mengandung vitamin penting, terutama vitamin B, C, dan D. Vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), niasin, dan provitamin D2 (ergosterol) dalam jamur tiram cukup tinggi. Mineral utama tertinggi adalah kalium, fosfor, natrium, kalsium, dan magnesium yang konsentrasinya mencapai 56 70 persen dari total abu dengan kadar kalsiumnya mencapai 45 persen. Mineral mikroelemen yang bersifat logam dalam jarum tiram sangat rendah sehingga jamur ini aman dikonsumsi setiap hari.
Dari kandungannya itulah jamur tiram sangat dianjurkan sebagai bahan makanan tambahan. Selain menurunkan kolesterol, jamur tiram juga berfungsi sebagai antibakterial dan antitumor, serta dapat menghasilkan enzim hidrolisis dan enzim oksidasi. Jamur tiram dipercaya mempunyai khasiat obat untuk penyakit lever, diabetes, anemia, dan juga mampu membunuh nematode. Sebagai bukti, United States Drugs and Administration (USDA) pernah melakukan penelitian pada tikus dengan pemberian menu jamur tiram selama 3 minggu dan ternyata hasilnya dapat menurunkan kadar kolesterol dalam serum hingga 40 persen dibandingkan dengan tikus yang tidak diberi pakan jamur tiram.
Kembali lagi pada Sotoji; kemasan plastiknya memang tidak terlalu unik dan biasa saja. Namun dari sisi desain visualnya telah memikat mata. Pemilihan huruf font dan besarannya membuat kata SOTOJI begitu eye-catching. Informasi tagline-nya pun begitu jelas dan pas bahwa Sotoji adalah soto jamur instan yang lezat, dengan kandungan serat dan protein nabati yang tinggi. Pemilihan warna dasar hijau tampak menunjukkan bahwa Sotoji ingin tampil beda sebagaimana pada umumnya kemasan mie instan rasa soto itu berwarna kuning.
Kelebihan lainnya dari kemasan Sotoji adalah panduan cara memasaknya yang lengkap dan praktis. Begitu pula dengan panduan ilustrasi 2D pada bagian sebelah kiri juga begitu informatif, menarik, dan mudah dipahami. Informasi nilai gizi juga ditampilkan sehingga konsumen pun bisa mengetahui apa saja zat-zat yang ada dalam Sotoji. Label halal dari MUI jelas merupakan syarat wajib sebuah produk makanan yang ingin laku di Indonesia, dan Sotoji sudah mencantumkannya. Hanya saja untuk pelayanan konsumen, Sotoji baru menggunakan alamat surel (email) saja, belum menggunakan nomor telepon yang jauh lebih mudah dan sering dipakai.
Seperti yang dikatakan oleh Kakak Bibin sebelum berangkat sekolah, Sotoji adalah mie instan yang enak dan menyehatkan. Tak heran kalau biasanya dia tergolong lambat dan malas untuk sarapan, saat dihidangkan Sotoji oleh sang belahan jiwa, ternyata soto jamur itu pun langsung habis begitu cepat. Untunglah ada 3 (tiga) sampel yang dikirimkan pihak Sotoji sehingga semua anggota keluarga dapat merasakannya, meski jumlah itu pun masih terhitung kurang. Bukan apa-apa, tampaknya Sotoji akan menjadi menu favorit setiap harinya bagi keluarga sosok itu, apalagi jika sudah begitu mudah mendapatkannya di berbagai tempat. Nah, bagaimana dengan kamu?[]















March 20th, 2012 at 09:18
Wuiiihhh…enak nih sarapan sotoji dingin2 begini bang ^^
March 20th, 2012 at 09:22
Orin : Pastinya, sedap banget tuh ^_^
March 20th, 2012 at 10:57
wati : makanya langsung dimakan, jangan nanti-nanti. sukses ya … ^_^
March 20th, 2012 at 13:07
Walaaaah anak Bang Aswi sendiri yg jadi model!
March 20th, 2012 at 13:56
yang bikinin dan nyiapin malah nggak kebagian :(, untung udah incip- incip..
March 20th, 2012 at 14:13
ummi : nanti beli lagi, hon ^_^
March 20th, 2012 at 14:15
Asop : ya, iyalah, sop, masa anak orang lain hehehe …
March 20th, 2012 at 22:34
Hai kawan, salam kenal, wah.. setuju deh.. SOTOJI emang mantap, hehehe.. aku juga punya sotoji lho.. di sini, jangan lupa liat pidionya juga makasih…
March 21st, 2012 at 09:20
emsholy : Semoga berhasil ya … ^_^
March 21st, 2012 at 11:11
Bang Aswi, keren tulisannya. Bunda juga ikutan walaupun terima sampelnya tgl. 19/3, tetep aja partisipasi. Seneng aja bisa rame-rame ngerame-in kontes biar rame dan rame-rame ngicipin Sotoji-nya, hehehehehe…..Moga keluar sebagai pemenang ya Bang Aswi.
March 21st, 2012 at 11:15
yati rachmat : Makasih, Bunda. Senangnya rame2, meski tidak menang juga yang penting sudah ikut merasakan Sotoji ^_^
March 22nd, 2012 at 07:52
berkunjung nih, liat-liat juga ke beranda saya ya Soto ala Sotoji
cek ke tkp
terimakasih
March 22nd, 2012 at 09:58
rizkipd : terima kasih sudah mau berkunjung ^_^
March 22nd, 2012 at 12:56
mantap kali sotoji.. mampir n follow blogku ya
http://aslisemarang.blogspot.com/2012/03/jangan-sotoy-kalo-belum-nyoba-sotoji.html
March 23rd, 2012 at 10:25
ilzam : hatur nuhun sudah mampir
June 29th, 2012 at 22:49
thks infonya, sekarang jamur banyak dipakai untuk yang vegetarian di olah untuk berbagai macam makanan yang rasanya mirip daging.
July 6th, 2012 at 09:42
>> Diana : Sama2, Diana. Pengen juga jadi vegan …